Raden Sirait

153930_radensirait

Ketika memulai kariernya sebagai bankir di salah satu bank swasta nasional 15 tahun silam, Raden Sirait sebenarnya memendam asa untuk menggeluti dunia mode. Namun, terlahir dari seorang keluarga kurang mampu–ayahnya seorang penjahit dan ibunya seorang buruh tani buta huruf–membuat Raden mempertimbangkan faktor kenyamanan finansial. Raden akhirnya mendorong dan memodali sang kakak untuk terjun di bisnis mode. “Saya hanya support,” katanya. Namun asa itu tak meredup setelah lima tahun bekerja. Kendati telah mendapatkan posisi nyaman di dunia perbankan, Raden malah banting setir menjadi perancang busana, mengikuti panggilan hatinya.

Ia merambah segala jenis busana. Namun ia paling suka kepada kebaya. Sejak lima tahun lalu, kecintaannya kepada kebaya semakin kuat. Baginya, kebaya adalah karya adiluhung bangsa. “Saya jatuh cinta kepada Kebaya. Kebaya tidak pernah usang, meski dipadankan dengan apa pun,” katanya. Nah, tahun ini dia merayakan cintanya kepada kebaya dalam pergelaran teatrikal bertajuk Kebaya for the World, yang digelar akhir Maret mendatang. “Pergelaran ini hanya satu dari langkah kecil untuk menarik minat dunia pada kebaya.” Raden telah menyiapkan lebih dari 200 potong kebaya untuk diperagakan. Sebagian merupakan karya terbaiknya selama lima tahun terakhir, dan sisanya adalah karya terbaru yang belum pernah diperagakan.

Menurut Raden, kebaya punya karisma seperti halnya kimono Jepang atau cheongsam Cina. “Saya ingin kebaya menjadi salah satu genre busana yang dikenal dan diakui secara global oleh masyarakat dunia, dipakai para selebritas dunia di atas karpet merah.” Meski begitu menikmati bidang busana, Raden tak pernah menimba ilmu rancang busana. “Saya juga tak bisa membuat sketsa desain, pola, atau jahit,” ujarnya. Tapi ia punya gagasan. Gagasan rancangan itu lalu ia sampaikan kepada kakaknya. Pada lain waktu, dia langsung bereksperimen dengan manekin untuk berkarya. “Bagi saya, Tuhan itu adil. Dia memberikan saya sense of art, dan kakak saya skill untuk mengerjakannya,” ia melanjutkan. Seluruh karya merupakan ungkapan syukurnya atas apa yang sudah diberikan Tuhan dalam hidup ini. “Tuhan menganugerahi talenta dan memberi kesempatan seluas-luasnya bagi manusia untuk juga mencipta, tanpa pamrih.” Dan ia punya cara tersendiri dalam mengagungkan Tuhan. Ketika berkunjung ke pura di Bali, dia berdoa layaknya orang Hindu. Saat bulan Ramadan, dia juga ikut sahur, buka, dan berpuasa penuh. “Bagi saya, Tuhan satu. Hanya, kita menyembahnya dengan cara yang berbeda,” katanya.

Ketika ditemui Tempo belum lama ini di Jakarta, Raden dengan antusias bercerita tentang rencana perjalanannya menjelajahi India dan Tibet selama dua pekan sejak akhir Januari bersama teman-temannya, antara lain aktris Asti Ananta. “India dan Tibet adalah tempat yang memiliki nilai spiritualitas tinggi,” ujarnya. Sementara itu, persiapan untuk pergelaran tunggalnya sudah dirampungkan lebih dulu. “Biarkan tim yang menjalankan sisanya. Saya ingin rileks sebentar. India dan Tibet sepertinya tempat yang baik untuk menjernihkan pikiran.” Meski sukses berkarier di dunia mode, Raden pernah gagal dalam menjalani bisnis salon dan tour & travel. “Kita tak akan menyadari nikmatnya makan kalau tak pernah kelaparan. Tak pernah memahami arti kesuksesan kalau tak pernah gagal,” tutur lelaki yang selalu menjadi juara kelas sejak SD hingga SMA itu. Tip suksesnya sendiri sederhana, “Lakukan segala sesuatu dengan penuh cinta.” Seperti cintanya kepada kebaya.

170036_5radensirait  165918_2radensirait  Raden_Sirait_Show  170016_4radensirait

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s