Kebaya dan Kepribadian Nasional

Bung Karno tidak hanya melahirkan berbagai gagasan mengenai perjuangan nasional dan bagaimana mewujudkan masyarakat Indonesia masa depan, namun juga seringkali menyimpan berbagai gagasan soal seni dan budaya, termasuk berpakaian. Melalui usulan bung Karno, kaum pergerakan bersepakat menggunakan peci sebagai simbol pergerakan nasional. Ada masih banyak yang lain.
Nah, khusus soal perempuan, pembaca sering terperangkap pada sebuah penyimpulan umum bahwa pakaian kebaya merupakan identitas nasional perempuan Indonesia.

1

Dan, dalam persoalan ini, juga karena Bung Karno sangat menyukai perempuan yang mengenakan kebaya, maka seolah-olah disimpulkan pula bahwa Bung Karno menginginkan semua perempuan Indonesia menggunakan kebaya.
Untuk diketahui, penggunaan kebaya bukanlah monopoli perempuan Indonesia, tetapi juga seringkali dipergunakan oleh perempuan Indo-Belanda, yang dipadukan dengan kain batik hasil kreasi perancang-perancang peranakan Tionghoa dan Indo. Dalam Nieuwenhuys Met vreemde ogen: Tempo doeloe – een verzonken wereld (1988), ada foto seorang nyai dari tuan besar Belanda di abad ke-19 yang mengenakan kebaya sutera hitam dengan disemat tiga bros.

Sebuah sumber lain menceritakan, sebelum perang diponegoro berakhir, batik masih merupakan dominasi keluarga bangsawan dan kalangan istana. Nantinya, orang Belanda punya andil dalam memassalkan batik itu di kalangan perempuan Indo dan eropa, lalu menyebarkannya ke perempuan Indonesia biasa.

Kartini sendiri, sosok pejuang perempuan dan sekaligus perintis pembebasan nasional, mengenakan pakaian kebaya dalam berbagai photo-photonya. Dalam panggung politik Indonesia, kaum perempuan, terutama dari kalangan atas atau elit, tampil mengenakan kebaya dan mengukuhkannya sebagai simbol pakaian nasional.

Soekarno sendiri, yang sibuk mencari identitas nasional sebagai alat “nation and character building’, lalu menganggap kebaya bisa mewakili simbol tersebut. Mungkin saja, Soekarno yang pada tahun 20-an sering mengagumi Gandhi, terpikat dengan dengan keberhasilan bangsa India menjadikan sari (baca, saree) sebagai pakaian perempuan mereka, sekaligus menunjukkan kepribadian dan identitas nasional mereka.

Menurut Saskia Wieringa dalam disertasinya “The Politization of gender relations in Indonesia:The Indonesian women’s movement and Gerwani until the New Order state”, sikap Soekarno terhadap perempuan tersebut lebih cenderung didorong oleh kekaguman dan hasrat dibandingkan keinginan tulus untuk memasyarakatkan persamaan hak.

Namun, ada persoalan saat kebaya dijadikan pakaian nasional dan kaitannya dalam kesejajaran dengan kaum pria dalam politik nasional, bahwa kebaya sangat mengurung dan menyempitkan ruang gerak kaum perempuan, sangat berbeda dengan lelaki yang dibolehkan mengenakan jas atau pantalon yang lebih luwes.

Bung Karno, seperti pernah diceritakan oleh Megawati pada tahun 1980an, punya pandangan bahwa perempuan Indonesia harus mencerminkan kepribadian nasional. Pernah, ketika Megawati diajak bapaknya, Bung Karno, menghadiri sebuah acara jamuan yang dihadiri ibu-ibu, ia menyaksikan wajah bapaknya memerah dan menahan marah. Ternyata, Bung Karno marah setelah melihat seorang ibu yang tatanan rambutnya terlalu menjulang tinggi karena disasak.

Seorang wanita Indonesia, jawab Bung Karno, adalah wanita yang berpakian kain kebaya dan sebagainya, tetapi harus, sekali lagi harus menunjukkan citra keaslian, yaitu berpakaian cantik, rapih, dan serasi, dan tetap cekatan dalam tindakan, tidak terkungkung ruang geraknya. Karena lahiriahnya bebas, batiniahnya juga bebas dan perasaan menjadi enak.

Pendek kata, Bung Karno pun tidak menyetujui penggunaan pakaian yang terlalu mengurung dan memenjarakan ruang gerak kaum perempuan, sehingga mereka tidak bebas dan cekatan. Padahal, karena perempuan juga berpartisipasi dalam revolusi nasional, maka perempuan pun harus terlihat bebas dan cekatan. “Mereka harus mempunyai jiwa merdeka,” tegas Bung Karno.

Sekarang ini, kebaya hanya akrab di kalangan perempuan kalangan atas, terutama istri-istri pejabat tinggi, dan penggunaannya pun terbatas pada acara-acara seremonial dan saat perayaan hari-hari nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s